Oleh: Nanang Wiwit Sinudarsono
Ada pesan yang hanya terdiri dari beberapa kata, tetapi mampu membuat seseorang berhenti cukup lama di depan layar telepon.
Bukan karena pesannya sulit dipahami.
Justru karena terlalu mudah untuk dipahami.
Satu hari yang lalu, pesan itu datang dari istriku.
“Surat panggilan sidang mau dialamatkan ke mana?”
Aku membaca kalimat itu.
Diam.
Kemudian membacanya lagi.
Sebuah pertanyaan yang secara administratif sebenarnya sangat sederhana.
Tetapi bagiku, pertanyaan itu membawa begitu banyak hal yang tidak tertulis.
Tentang perjalanan yang pernah kami mulai bersama.
Tentang rumah yang pernah kami sebut rumah kita.
Tentang hari-hari ketika kami masih saling menunggu.
Tentang anak-anak.
Tentang pertengkaran.
Tentang diam.
Tentang luka yang mungkin terlalu lama dibiarkan.
Dan akhirnya tentang sebuah persidangan yang sebentar lagi mungkin akan menjadi bagian dari cerita hidup kami.
Aku kemudian menjawabnya.
“Sesuai dengan KTP atau ke tempat tinggal kita dulu juga nggak apa-apa.”
Hanya itu jawabanku.
Tidak ada kalimat panjang.
Tidak ada pertanyaan balik.
Tidak ada protes.
Tidak ada kata-kata yang mencoba mengubah keputusan.
Aku hanya menjawab sebagaimana mestinya.
Namun setelah pesan itu terkirim, entah mengapa aku justru terdiam.
Karena ada sesuatu yang terasa aneh dari jawabanku sendiri.
“Ke tempat tinggal kita dulu juga nggak apa-apa.”
Tempat tinggal kita dulu.
Dua kata itu mungkin sederhana.
Tetapi ternyata kata “dulu” memiliki beban yang luar biasa berat.
Dulu.
Kata yang menunjukkan bahwa sesuatu pernah ada.
Pernah menjadi milik bersama.
Pernah menjadi tempat pulang.
Tetapi kini mungkin hanya tinggal sebuah alamat.
Sebuah alamat yang masih bisa disebut dengan nama jalannya, nomor rumahnya, dan kode posnya.
Namun apakah masih bisa disebut sebagai rumah?
Aku tidak tahu.
Sebab rumah sesungguhnya bukan hanya bangunan.
Rumah adalah tempat di mana seseorang merasa diterima.
Tempat di mana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.
Tempat di mana dua orang yang pernah berjanji untuk bersama meletakkan lelahnya setelah seharian menghadapi dunia.
Dan ketika hubungan itu berada di ujung perjalanan, yang paling menyakitkan bukan kehilangan bangunan.
Melainkan kehilangan makna dari kata “kita.”
Mungkin itulah mengapa aku tidak keberatan surat itu dialamatkan ke mana pun.
Ke alamat yang tertera di KTP, silakan.
Ke tempat tinggal kami dulu, juga tidak apa-apa.
Karena pada akhirnya, yang sedang dipersoalkan bukan lagi alamat surat.
Melainkan ke mana arah kehidupan kami setelah ini.
Aku tidak tahu apakah persidangan nanti akan menjadi akhir.
Aku juga tidak tahu apakah masih ada jalan lain yang belum kami temukan.
Yang aku tahu, ada banyak hal dalam sebuah rumah tangga yang tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan sebuah keputusan.
Kenangan tidak ikut masuk ke ruang sidang.
Tawa anak-anak tidak bisa dijadikan bukti.
Malam-malam ketika kami saling menguatkan tidak tercatat dalam berkas perkara.
Begitu pula air mata, penyesalan, dan doa-doa yang pernah dipanjatkan diam-diam.
Semua itu berada di luar dokumen.
Tetapi tetap hidup di dalam ingatan.
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan istriku.
Aku juga tidak ingin menjadikan diriku sebagai pihak yang paling benar.
Barangkali kami sama-sama memiliki kesalahan.
Barangkali kami sama-sama pernah gagal menjaga sesuatu yang dulu kami anggap akan bertahan selamanya.
Dan mungkin, dalam sebuah hubungan, ada luka yang tidak terlihat oleh siapa pun selain mereka yang menjalaninya.
Karena itu aku memilih untuk tidak menjadikan perpisahan sebagai perang.
Kalaupun suatu hari nanti benar-benar harus berpisah, semoga kami masih mampu saling menghormati.
Sebab dia pernah menjadi istriku.
Pernah menjadi seseorang yang kupilih untuk menemani hidup.
Pernah menjadi tempat berbagi cerita.
Pernah menjadi bagian dari banyak doa.
Dan tidak adil rasanya jika semua itu tiba-tiba harus diubah menjadi kebencian hanya karena perjalanan kami mungkin tidak sampai pada tujuan yang sama.
Satu hari yang lalu, istriku bertanya:
“Surat panggilan sidang mau dialamatkan ke mana?”
Dan aku menjawab:
“Sesuai dengan KTP atau ke tempat tinggal kita dulu juga nggak apa-apa.”
Jawaban yang mungkin terdengar biasa.
Tetapi setelahnya, aku sadar...
Kadang-kadang seseorang tidak sedang memilih sebuah alamat.
Ia sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa tempat yang dulu disebut rumah, perlahan sedang berubah menjadi masa lalu.
Dan mungkin itulah bagian paling berat dari sebuah perpisahan.
Bukan ketika seseorang pergi.
Tetapi ketika kita menyadari bahwa tempat yang dahulu menjadi tujuan untuk pulang, mungkin tidak lagi memiliki arti yang sama.
Namun aku percaya, hidup harus terus berjalan.
Jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki, semoga Tuhan membuka jalan.
Jika memang harus berpisah, semoga Tuhan memberikan hati yang cukup luas untuk menerima.
Karena pada akhirnya, aku tidak ingin mengingat perjalanan ini hanya sebagai sebuah kegagalan.
Aku ingin mengingatnya sebagai bagian dari hidup.
Bagian yang pernah mengajarkan tentang cinta.
Tentang keluarga.
Tentang kesabaran.
Tentang kehilangan.
Dan terutama tentang bagaimana seseorang belajar menerima sesuatu yang tidak selalu bisa ia kendalikan.
Mungkin nanti akan ada sebuah surat yang benar-benar datang ke alamat itu.
Mungkin akan ada sebuah ruang sidang.
Mungkin akan ada keputusan.
Tetapi sebelum semuanya sampai ke sana, aku hanya ingin menyimpan satu hal:
Bahwa pernah ada masa ketika alamat itu adalah alamat kami.
Dan meskipun suatu hari nanti kata “kami” mungkin berubah menjadi “aku” dan “kamu”, aku berharap tidak pernah berubah menjadi “musuh.”
Sebab kami pernah saling mencintai.
Dan sesuatu yang pernah begitu berarti, setidaknya pantas untuk diakhiri dengan cara yang tetap manusiawi.