Tongkat Si Buta yang Terbuang, Karena Si Buta Tak Lagi Buta


Di sebuah lorong panjang bernama kehidupan, pernah ada seorang perempuan yang berjalan tertatih. Dunia baginya gelap, penuh lubang dan jurang. Ia melangkah dengan ragu, takut jatuh, takut tersesat. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat—penuntun setia yang tak pernah mengeluh, tak pernah bertanya mengapa harus memikul beban itu setiap hari.

Tongkat itu adalah suaminya.

Ia tidak bercahaya. Ia tidak bersuara keras. Ia hanya sebatang kayu sederhana, yang menguatkan langkah dan memberi arah. Ketika si perempuan terantuk batu, tongkat itu menahan. Ketika ia hampir tergelincir, tongkat itu lebih dulu menyentuh jurang. Ia menjadi perpanjangan indera, perisai bagi luka.

Hari-hari berlalu. Perlahan, mata si buta mulai melihat. Entah karena doa yang tak pernah putus, entah karena usaha yang tak pernah padam, atau mungkin karena cahaya yang Allah bukakan sedikit demi sedikit. Ia mulai mengenali warna dunia. Ia belajar membaca arah angin. Ia tak lagi sepenuhnya bergantung pada tongkatnya.

Dan di situlah ujian dimulai.

Ketika mata telah mampu melihat, sering kali hati lupa bagaimana dulu ia berjalan dalam gelap. Tongkat yang dulu menjadi penyelamat, kini terasa hanya sebagai kayu biasa. Bahkan mungkin dianggap beban. Tidak lagi digenggam erat, tidak lagi dirawat dengan penuh syukur. Ia diletakkan di sudut rumah, berdebu, dilupakan.

Padahal tongkat itu tidak pernah berubah. Ia tetap kokoh seperti dulu.

Ironi kehidupan rumah tangga sering tersembunyi dalam cerita seperti ini. Seorang suami, di masa-masa sulit, menjadi penopang. Ia mungkin bukan lelaki sempurna. Ia bisa saja penuh kekurangan, bahkan kesalahan. Namun di fase gelap sang istri, ia adalah alasan mengapa langkah itu tetap berjalan.

Ketika karier mulai menanjak.
Ketika nama mulai dikenal.
Ketika penghasilan mulai mapan.

Tiba-tiba, tongkat itu terasa tak lagi diperlukan.

Padahal bukan tongkat yang kehilangan fungsi—melainkan hati yang kehilangan ingatan.

Sebab sejatinya, melihat bukan berarti tak lagi membutuhkan penopang. Dunia yang terang pun menyimpan jurang yang tak kasatmata: kesombongan, lupa diri, merasa mampu sendiri. Justru saat mata terbuka lebar, manusia sering terjatuh pada lubang yang lebih dalam—lubang keangkuhan.

Tongkat dalam analogi ini bukan sekadar simbol ketergantungan. Ia adalah simbol peran, doa, dan ridha. Banyak suami yang mungkin tak pandai merangkai kata cinta, namun setiap malam ia menyelipkan nama istrinya dalam sujud. Banyak yang tak tampil gemilang di depan publik, namun diam-diam menjadi fondasi keberanian sang istri melangkah.

Membuang tongkat bukan sekadar melepaskan kayu. Itu adalah melupakan sejarah perjalanan.

Padahal dalam rumah tangga, cinta bukan hanya tentang siapa yang paling kuat berdiri sendiri, melainkan siapa yang tetap setia menggenggam, meski tak lagi mutlak dibutuhkan. Karena sesungguhnya, suami bukan tongkat yang dipakai saat butuh lalu dibuang ketika kuat.

Ia adalah pasangan perjalanan.

Dan perjalanan tidak pernah benar-benar aman tanpa kebersamaan.

Maka jika hari ini seorang istri telah mampu melihat dunia dengan terang, hendaknya ia menoleh sejenak ke belakang. Ingatlah masa ketika langkah masih goyah. Ingatlah siapa yang pertama kali berdiri di sisi, bukan untuk dipuja, tapi untuk menguatkan.

Tongkat itu mungkin sederhana.
Tak bersuara.
Tak menuntut balas.

Namun ia adalah saksi dari setiap langkah yang pernah rapuh.

Dan sering kali, yang paling setia justru adalah yang paling mudah dilupakan.

Post a Comment

Previous Post Next Post