Tentang Karier yang Berawal dari Keraguan, dan Suami yang Melihat Potensi Saat Istri Masih Ragu
Sejujurnya, pada awalnya aku tidak mau.
Bukan karena aku tak punya mimpi,
tetapi karena aku takut.
Takut rumah tangga terganggu,
takut dianggap terlalu ambisius,
takut gagal dan pulang dengan luka.
Namun justru di saat itulah, suamiku yang bersikeras membujuk.
“Aku ridho,” katanya sederhana.
“Coba saja. Jangan matikan potensi yang Allah titipkan padamu.”
Ketika Suami Melihat Cahaya, Saat Istri Masih Ragu
Dalam tasawuf, sering kali Allah mengirimkan keyakinan bukan langsung ke hati kita,
melainkan melalui orang terdekat.
Dan bagiku, keyakinan itu datang lewat suami.
Aku melihat diriku penuh keterbatasan.
Ia justru melihat kemungkinan.
Aku menghitung risiko.
Ia menghitung keberkahan.
Aku khawatir tidak sanggup membagi waktu.
Ia berkata, “Kita belajar bersama. Aku akan menyesuaikan.”
Di titik itu aku sadar,
ini bukan dorongan ambisi,
ini adalah dorongan cinta yang bertanggung jawab.
Ridho yang Mendahului Keberanian
Banyak orang mengira perempuan karier itu keras kepala.
Padahal sering kali, yang membuatnya melangkah adalah ridho yang lebih dulu diberikan.
Suamiku tahu, jika aku melangkah tanpa restu, hatiku akan selalu gelisah. Maka ia mendahului dengan keyakinan, agar langkahku tak berat,
agar ikhtiarku tak cacat adab.
Dalam tasawuf, ini disebut tafwidh—
menyerahkan hasil kepada Allah,
setelah manusia saling menguatkan dengan niat yang lurus.
Kesuksesan yang Dimulai dari Pintu Rumah
Karierku mulai berjalan.
Satu demi satu pintu terbuka.
Nama mulai dikenal.
Kesempatan berdatangan.
Namun setiap kali aku ingin berhenti,
ingin menyerah, ingin kembali pada rasa takut semula— suamiku kembali berkata: “Lanjutkan. Jangan berhenti di tengah amanah.” Ia tak hanya memberiku izin, tetapi menjadi pagar agar aku tidak keluar dari batas.
Mengingatkanku pada rumah, pada adab, pada Allah.
Tasawuf Mengajarkan: Tidak Semua Pemimpin Berada di Depan
Suamiku tidak selalu berdiri di panggung.
Tidak selalu disebut dalam pencapaian.
Namun dalam kacamata tasawuf,
ia adalah penjaga niat.
Ia memimpin bukan dengan suara keras, melainkan dengan kesediaan menanggung konsekuensi.
Ia tahu, mendorong istrinya maju berarti siap berjalan sedikit di belakang — dan itu tidak semua laki-laki sanggup.
Penutup:
Jika Bukan Karena Dia yang Memaksaku Percaya
Hari ini, jika orang bertanya:
“Apa rahasia kesuksesanmu?”
Aku ingin menjawab dengan jujur:
Jika bukan karena suamiku yang terus membujuk saat aku ragu, aku mungkin memilih aman dan diam.
Jika bukan karena ridhonya yang mendahului keberanianku, aku mungkin tak pernah tahu sejauh apa Allah ingin membawaku.
Karier ini mungkin milikku, tetapi keberanian untuk memulainya—itu hadiah dari suami.