Perceraian memang hak setiap pasangan ketika rumah tangga sudah tidak lagi bisa dipertahankan. Tidak ada yang dapat memaksa dua orang untuk tetap hidup bersama dalam konflik yang berkepanjangan. Namun, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan:
Mengapa begitu mudah mengeluarkan jutaan rupiah untuk menggugat cerai, tetapi begitu berat mengeluarkan uang yang sama demi pendidikan anak?
Banyak anak terpaksa menunggak SPP, tidak memiliki perlengkapan sekolah yang layak, bahkan harus menahan rasa malu karena kebutuhan pendidikannya belum terpenuhi. Di sisi lain, orang tuanya rela menghabiskan biaya perkara, biaya kuasa hukum, dan berbagai pengeluaran lain untuk mempercepat berakhirnya sebuah pernikahan.
Ironisnya, yang paling menderita bukan suami atau istri, melainkan anak-anak.
Anak tidak pernah meminta kedua orang tuanya berpisah. Mereka hanya ingin tetap dicintai, diperhatikan, dan dipenuhi hak-haknya. Pendidikan adalah salah satu hak yang tidak boleh dikorbankan hanya karena orang tua gagal mempertahankan rumah tangga. Bahkan setelah perceraian, hukum di Indonesia tetap mewajibkan orang tua, khususnya ayah, untuk menanggung biaya pemeliharaan dan pendidikan anak sesuai kemampuannya. Perceraian tidak menghapus tanggung jawab tersebut.
Jika memang perceraian adalah jalan terakhir, maka jangan jadikan anak sebagai korban berikutnya.
Jangan sampai semangat untuk mengakhiri hubungan lebih besar daripada semangat menjaga masa depan anak. Sebab biaya perkara mungkin hanya dibayar sekali, tetapi kehilangan kesempatan belajar dapat meninggalkan luka dan dampak seumur hidup.
Seorang ayah yang baik bukan hanya hadir saat pernikahan masih utuh. Seorang ibu yang bijaksana bukan hanya berjuang memenangkan gugatan. Keduanya diuji dari seberapa besar mereka tetap memprioritaskan anak, bahkan ketika tidak lagi hidup serumah.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang saling menjatuhkan. Mereka membutuhkan orang tua yang tetap bertanggung jawab.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang menang dalam sidang perceraian. Namun, anak akan selalu mengingat siapa yang tetap memperjuangkan pendidikannya ketika keluarganya sedang runtuh.
Karena masa depan anak jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah persidangan.