Ada orang tua yang menangis bukan karena tidak mencintai anak-anaknya, tetapi karena keadaan ekonomi membuatnya tak lagi mampu memenuhi semua kebutuhan mereka seperti dahulu.
Lalu muncul pertanyaan yang mengusik hati,
"Jika satu tahun terakhir aku tidak mampu memberikan kebutuhan anak-anakku, padahal selama dua puluh tahun sebelumnya Allah telah memampukanku menafkahi, mendidik, dan membesarkan mereka, apakah aku termasuk orang yang zalim?"
Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".
Dalam Islam, Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Allah berfirman:
«"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)»
Jika seseorang benar-benar telah berusaha bekerja, mencari rezeki yang halal, memohon pertolongan Allah, namun tetap berada dalam kesulitan, maka kemiskinan itu bukanlah bukti bahwa ia seorang yang zalim.
Yang disebut kezaliman adalah ketika seseorang mampu tetapi sengaja menelantarkan, memiliki rezeki tetapi enggan menafkahi, atau lebih memilih menghamburkan harta untuk kepentingan dirinya daripada memenuhi hak anak-anaknya.
Sebaliknya, orang yang selama bertahun-tahun telah berjuang membesarkan anak, menyekolahkan mereka, memenuhi kebutuhan hidupnya, lalu suatu saat diuji dengan kesempitan rezeki, janganlah menghapus seluruh pengorbanan itu hanya karena satu masa sulit.
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui setiap tetes keringat, setiap doa di sepertiga malam, setiap usaha yang mungkin tidak pernah diketahui manusia.
Namun, ujian ekonomi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berikhtiar. Seorang ayah tetap berkewajiban mencari nafkah semampunya. Seorang ibu tetap berkewajiban menjaga amanah keluarga sesuai kemampuannya. Selama napas masih ada, perjuangan tidak boleh berhenti.
Anak-anak kelak mungkin tidak mengingat berapa banyak uang yang pernah kita miliki. Tetapi mereka akan mengingat bahwa ayah dan ibunya tidak pernah menyerah, tidak lari dari tanggung jawab, dan tetap berusaha meski dalam keterbatasan.
Jangan biarkan rasa bersalah membuatmu putus asa. Jadikan ia sebagai bahan muhasabah, bukan sebagai alasan untuk berhenti berjuang.
Jika selama dua puluh tahun Allah telah memampukanmu memberi, maka bersyukurlah. Jika hari ini Allah mengujimu dengan kekurangan, bersabarlah. Karena yang Allah nilai bukan hanya hasilnya, tetapi juga kejujuran ikhtiar dan ketulusan hati.
Semoga Allah kembali melapangkan rezeki, menjaga anak-anak kita, dan menerima setiap perjuangan yang telah dilakukan sebagai amal saleh. Aamiin.