Sekubal, Makanan Khas Lampung

Sekubal merupakan panganan khas daerah Lampung yang identik menjadi sajian pada hari raya bersanding dengan ketupat. Makanan dari beras ketan putih itu seperti menjadi makanan wajib bagi setiap rumah.

Namun itu dahulu, kini makanan sekubal sudah sangat jarang dijumpai di meja-meja hidangan warga di kampung-kampung, apalagi di kota pada saat merayakan Lebaran Idulfitri atau Iduladha.Entah mengapa makanan yang memiliki cita rasa khas gurih dan lezat tersebut perlahan-lahan mulai hilang, dan hanya tinggal ketupat, lontong berbungkus daun pisang atau plastik yang terhidang di meja-meja makan warga.

Sekubal sendiri merupakan jenis makanan berbahan dasar beras ketan putih yang biasanya diolah dan dibalut dengan daun pisang, lalu dikukus.

Makanan khas ini biasanya dipadu dengan opor ayam, sayaur santan daging atau rendang.

Membuat sekubal bisa dilakukan dengan memasak terlebih dahulu beras ketan putih hingga setengah matang. Beras ketan putih tersebut dimasak dengan air santan yang diberi garam secukupnya. Setelah itu beras ketan setengah matang tersebut dimasukkan kedalam cetakan bulat dengan ketebalan sekitar 1,5 cm dan diamter sekitar 6 atau 7cm. Setelah selesai di cetak kemudian masukkan ke dalam gulungan daun pisang berukuran panjang sekitar 25-30 cm dan diamter sekitar 6 atau 7,5cm yang sudah disiapkan. Setiap satu cetakan yang dimasukkan dilapisi dengan daun pisang muda.

Selanjutnya gulungan yang sudah terisi diikat secara melilit dengan tali rafia kemudian siap untuk direbus atau dimasak. Karena beras ketan putih sebelumnya sudah dimasak hingga setengah matang, maka merebus atau memasak ketupat hingga benar-benar matang hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja.


Setelah benar-benar masak ikatan tali rafia serta daun pisang yang membungkus sudah bisa dibuka dan sekubal tersebut sudah bisa disantap. Sekubal tersebut biasanya akan sangat lezat disantap dengan sayur opor ayam, sayur santan daging atau rendang.


Keberadaan makanan sekubal tersebut kini sudah jarang sekali dijumpai meski di kampung-kampung sekalipun. Sudah sejak beberapa tahun lalu makanan sekubal perlahan-lahan menghilang sehingga tak lagi mudah dijumpai.

Kalau dulu walaupun sudah ada ketupat rasanya kurang lengkap kalau merayakan hari raya Idulfitri atau Iduladha enggak ada sekubal. Sehingga waktu itu kita pasti bisa menjumpai makanan sekubal di setiap rumah.

Namun sekarang, lanjut Maryamah, suasananya sudah sangat berbeda sekali. Dimana makanan sekubal sudah sangat jarang bahkan bisa dibilang hampir tak terlihat lagi ada di meja-meja hidangan warga saat Lebaran.

Maryamah sendiri tidak tahu persis mengapa maknan khas yang menurut dia lebih lezat dan gurih dibanding ketupat atau lontong itu perlahan-lahan hilang dan sudah sangat jarang dibuat oleh waraga.


Mungkin perkembangan zaman saat ini yang semua sudah serba modern dan praktis hingga mulai menghilangnya makanan sekubal tersebut. Mungkin juga para remaja putri pribumi yang ada di kampung atau di kota menganggap proses pembuatan makanan sekubal tersebut terlalu bertele-tele, tidak praktis dan memakan waktu.

Sementara mereka nampaknya lebih menyukai hal-hal yang serba praktis, cepat dan tidak perlu duduk berlama-lama dalam mengolah makanan. Sehingga seperti biasa akhirnya hanya ketupat, lontong berbungkus daun pisang atau bahkan berbungkus plastik kiloan yang menjadi pilihan.


Mungkin karena alasan itulah maka akhirnya makanan sekubal ini perlahan-lahan tersingkir dengan sendirinya.


Padahal menurut Maryamah, sekubal seharusnya dilestarikan sebagai kekayaan kuliner khas daerah.

Karenanya sangat disayangkan jika makanan lezat tersebut tidak dilestarikan, kemudian dibiarkan dan lama kelamaan akan hilang serta hanya menjadi sebuah cerita turun temurun di antara warga.

Karena itulah maka makanan sekubal ini harus bisa kita lestarikan. Jangan sampai makanan ini nantinya benar-benar hilang dan anak cucu kita hanya tahu ceritanya saja tanpa bisa menikmatinya.

Comments